skip to main | skip to sidebar

coretan Fajar

  • Entries (RSS)
  • Comments (RSS)
  • Home
  • Posts RSS
  • Comments RSS
  • Edit
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Agustus 2010

Apa yang menghalangi Jilbabmu Saudariku ?

Diposting oleh coretanfajar di 22.09 Label: agama
Saudariku…
Seorang mukmin dengan mukmin lain ibarat cermin. Bukan cermin yang memantulkan bayangan fisik, melainkan cermin yang menjadi refleksi akhlak dan tingkah laku. Kita dapat mengetahui dan melihat kekurangan kita dari saudara seagama kita. Cerminan baik dari saudara kita tentulah baik pula untuk kita ikuti. Sedangkan cerminan buruk dari saudara kita lebih pantas untuk kita tinggalkan dan jadikan pembelajaran untuk saling memperbaiki.
Saudariku…
Tentu engkau sudah mengetahui bahwa Islam mengajarkan kita untuk saling mencintai. Dan salah satu bukti cinta Islam kepada kita –kaum wanita– adalah perintah untuk berjilbab. Namun, kulihat engkau masih belum mengambil “kado istimewa” itu. Kudengar masih banyak alasan yang menginap di rongga-rongga pikiran dan hatimu setiap kali kutanya, “Kenapa jilbabmu masih belum kau pakai?” Padahal sudah banyak waktu kau luangkan untuk mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perintah jilbab. Sudah sekian judul buku engkau baca untuk memantapkan hatimu agar segera berjilbab. Juga ribuan surat cinta dari saudarimu yang menginginkan agar jilbabmu itu segera kau kenakan. Lalu kenapa, jilbabmu masih terlipat rapi di dalam lemari dan bukan terjulur untuk menutupi dirimu?
Mengapa Harus Berjilbab?
Mungkin aku harus kembali mengingatkanmu tentang alasan penting kenapa Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan perintah jilbab kepada kita –kaum Hawa- dan bukan kepada kaum Adam. Saudariku, jilbab adalah pakaian yang berfungsi untuk menutupi perhiasan dan keindahan dirimu, agar dia tidak dinikmati oleh sembarang orang. Ingatkah engkau ketika engkau membeli pakaian di pertokoan, mula-mula engkau melihatnya, memegangnya, mencobanya, lalu ketika kau jatuh cinta kepadanya, engkau akan meminta kepada pemilik toko untuk memberikanmu pakaian serupa yang masih baru dalam segel. Kenapa demikian? Karena engkau ingin mengenakan pakaian yang baru, bersih dan belum tersentuh oleh tangan-tangan orang lain. Jika demikian sikapmu pada pakaian yang hendak engkau beli, maka bagaimana sikapmu pada dirimu sendiri? Tentu engkau akan lebih memantapkan ’segel’nya, agar dia tetap ber’nilai jual’ tinggi, bukankah demikian? Saudariku, izinkan aku sedikit mengingatkanmu pada firman Rabb kita ‘Azza wa Jalla berikut ini,
“Katakanlah kepada wanita-wanita beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.’” (Qs. An-Nuur: 31)
Dan firman-Nya,
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzaab: 59)
Saudariku tercinta, Allah tidak semata-mata menurunkan perintah jilbab kepada kita tanpa ada hikmah dibalik semuanya. Allah telah mensyari’atkan jilbab atas kaum wanita, karena Allah Yang Maha Mengetahui menginginkan supaya kaum wanita mendapatkan kemuliaan dan kesucian di segala aspek kehidupan, baik dia adalah seorang anak, seorang ibu, seorang saudari, seorang bibi, atau pun sebagai seorang individu yang menjadi bagian dari masyarakat. Allah menjadikan jilbab sebagai perangkat untuk melindungi kita dari berbagai “virus” ganas yang merajalela di luar sana. Sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Abul Qasim Muhammad bin ‘Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya,
“Wanita itu adalah aurat, jika ia keluar rumah, maka syaithan akan menghiasinya.” (Hadits shahih. Riwayat Tirmidzi (no. 1173), Ibnu Khuzaimah (III/95) dan ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabiir (no. 10115), dari Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma)
Saudariku, berjilbab bukan hanya sebuah identitas bagimu untuk menunjukkan bahwa engkau adalah seorang muslimah. Tetapi jilbab adalah suatu bentuk ketaatanmu kepada Allah Ta’ala, selain shalat, puasa, dan ibadah lain yang telah engkau kerjakan. Jilbab juga merupakan konsekuensi nyata dari seorang wanita yang menyatakan bahwa dia telah beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, jilbab juga merupakan lambang kehormatan, kesucian, rasa malu, dan kecemburuan. Dan semua itu Allah jadikan baik untukmu. Tidakkah hatimu terketuk dengan kasih sayang Rabb kita yang tiada duanya ini?
“Aku Belum Berjilbab, Karena…”
1. “Hatiku masih belum mantap untuk berjilbab. Jika hatiku sudah mantap, aku akan segera berjilbab. Lagipula aku masih melaksanakan shalat, puasa dan semua perintah wajib kok..”
Wahai saudariku… Sadarkah engkau, siapa yang memerintahmu untuk mengenakan jilbab? Dia-lah Allah, Rabb-mu, Rabb seluruh manusia, Rabb alam semesta. Engkau telah melakukan berbagai perintah Allah yang berpangkal dari iman dan ketaatan, tetapi mengapa engkau beriman kepada sebagian ketetapan-Nya dan ingkar terhadap sebagian yang lain, padahal engkau mengetahui bahwa sumber dari semua perintah itu adalah satu, yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala?
Seperti shalat dan amalan lain yang senantiasa engkau kerjakan, maka berjilbab pun adalah satu amalan yang seharusnya juga engkau perhatikan. Allah Ta’ala telah menurunkan perintah hijab kepada setiap wanita mukminah. Maka itu berarti bahwa hanya wanita-wanita yang memiliki iman yang ridha mengerjakan perintah ini. Adakah engkau tidak termasuk ke dalam golongan wanita mukminah?
Ingatlah saudariku, bahwa sesungguhnya keadaanmu yang tidak berjilbab namun masih mengerjakan amalan-amalan lain, adalah seperti orang yang membawa satu kendi penuh dengan kebaikan akan tetapi kendi itu berlubang, karena engkau tidak berjilbab. Janganlah engkau sia-siakan amal shalihmu disebabkan orang-orang yang dengan bebas di setiap tempat memandangi dirimu yang tidak mengenakan jilbab. Silakan engkau bandingkan jumlah lelaki yang bukan mahram yang melihatmu tanpa jilbab setiap hari dengan jumlah pahala yang engkau peroleh, adakah sama banyaknya?

2. “Iman kan letaknya di hati. Dan yang tahu hati seseorang hanya aku dan Allah.”
Duhai saudariku…Tahukah engkau bahwa sahnya iman seseorang itu terwujud dengan tiga hal, yakni meyakini sepenuhnya dengan hati, menyebutnya dengan lisan, dan melakukannya dengan perbuatan?
Seseorang yang beramal hanya sebatas perbuatan dan lisan, tanpa disertai dengan keyakinan penuh dalam hatinya, maka dia termasuk ke dalam golongan orang munafik. Sementara seseorang yang beriman hanya dengan hatinya, tanpa direalisasikan dengan amal perbuatan yang nyata, maka dia termasuk kepada golongan orang fasik. Keduanya bukanlah bagian dari golongan orang mukmin. Karena seorang mukmin tidak hanya meyakini dengan hati, tetapi dia juga merealisasikan apa yang diyakininya melalui lisan dan amal perbuatan. Dan jika engkau telah mengimani perintah jilbab dengan hatimu dan engkau juga telah mengakuinya dengan lisanmu, maka sempurnakanlah keyakinanmu itu dengan bersegera mengamalkan perintah jilbab.
3. “Aku kan masih muda…”
Saudariku tercinta… Engkau berkata bahwa usiamu masih belia sehingga menahanmu dari mengenakan jilbab, dapatkah engkau menjamin bahwa esok masih untuk dirimu? Apakah engkau telah mengetahui jatah hidupmu di dunia, sehingga engkau berkata bahwa engkau masih muda dan masih memiliki waktu yang panjang? Belumkah engkau baca firman Allah ‘Azza wa Jalla yang artinya,
“Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, jika kamu sesungguhnya mengetahui.” (Qs. Al-Mu’minuun: 114)
“Pada hari mereka melihat adzab yang diancam kepada mereka, (mereka merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) waktu pelajaran yang cukup.” (Qs. Al-Ahqaaf: 35)
Tidakkah engkau perhatikan tetanggamu atau teman karibmu yang seusia denganmu atau di bawah usiamu telah menemui Malaikat Maut karena perintah Allah ‘Azza wa Jalla? Tidakkah juga engkau perhatikan si fulanah yang kemarin masih baik-baik saja, tiba-tiba menemui ajalnya dan menjadi mayat hari ini? Tidakkah semua itu menjadi peringatan bagimu, bahwa kematian tidak hanya mengetuk pintu orang yang sekarat atau pun orang yang lanjut usia? Dan Malaikat Maut tidak akan memberimu penangguhan waktu barang sedetik pun, ketika ajalmu sudah sampai. Setiap hari berlalu sementara akhiratmu bertambah dekat dan dunia bertambah jauh. Bekal apa yang telah engkau siapkan untuk hidup sesudah mati? Ketahuilah saudariku, kematian itu datangnya lebih cepat dari detak jantungmu yang berikutnya. Jadi cepatlah, jangan sampai terlambat…
4. “Jilbab bikin rambutku jadi rontok…”
Sepertinya engkau belum mengetahui fakta terbaru mengenai ‘canggih’nya jilbab. Dr. Muhammad Nidaa berkata dalam Al-Hijaab wa Ta’tsiruuha ‘Ala Shihhah wa Salamatus Sya’ri tentang pengaruh jilbab terhadap kesehatan dan keselamatan rambut,
“Jilbab dapat melindungi rambut. Penelitian dan percobaan telah membuktikan bahwa perubahan cuaca dan cahaya matahari langsung akan menyebabkan hilangnya kecantikan rambut dan pudarnya warna rambut. Sehingga rambut menjadi kasar dan berwarna kusam. Sebagaimana juga udara luar (oksigen) dan hawa tidaklah berperan dalam pertumbuhan rambut. Karena bagian rambut yang terlihat di atas kepala yang dikenal dengan sebutan batang rambut tidak lain adalah sel-sel kornea (yang tidak memiliki kehidupan). Ia akan terus memanjang berbagi sama rata dengan rambut yang ada di dalam kulit. Bagian yang aktif inilah yang menyebabkan rambut bertambah panjang dengan ukuran sekian millimeter setiap hari. Ia mendapatkan suplai makanan dari sel-sel darah dalam kulit.
Dari sana dapat kita katakan bahwa kesehatan rambut bergantung pada kesehatan tubuh secara umum. Bahwa apa saja yang mempengaruhi kesehatan tubuh, berupa sakit atau kekurangan gizi akan menyebabkan lemahnya rambut. Dan dalam kondisi mengenakan jilbab, rambut harus dicuci dengan sabun atau shampo dua atau tiga kali dalam sepekan, menurut kadar lemak pada kulit kepala. Maksudnya apabila kulit kepala berminyak, maka hendaklah mencuci rambut tiga kali dalam sepekan. Jika tidak maka cukup mencucinya dua kali dalam sepekan. Jangan sampai kurang dari kadar ini dalam kondisi apapun. Karena sesudah tiga hari, minyak pada kulit kepala akan berubah menjadi asam dan hal itu akan menyebabkan patahnya batang rambut, dan rambut pun akan rontok.” (Terj. Banaatunaa wal Hijab hal. 66-67)

5. “Kalau aku pakai jilbab, nanti tidak ada laki-laki yang mau menikah denganku. Jadi, aku pakai jilbabnya nanti saja, sesudah menikah.”
Wahai saudariku… Tahukah engkau siapakah lelaki yang datang meminangmu itu, sementara engkau masih belum berjilbab? Dia adalah lelaki dayyuts, yang tidak memiliki perasaan cemburu melihatmu mengobral aurat sembarangan. Bagaimana engkau bisa berpendapat bahwa setelah menikah nanti, suamimu itu akan ridha membiarkanmu mengulur jilbab dan menutup aurat, sementara sebelum pernikahan itu terjadi dia masih santai saja mendapati dirimu tampil dengan pakaian ala kadarnya? Jika benar dia mencintai dirimu, maka seharusnya dia memiliki perasaan cemburu ketika melihat auratmu terbuka barang sejengkal saja. Dia akan menjaga dirimu dari pandangan liar lelaki hidung belang yang berkeliaran di luar sana. Dia akan lebih memilih dirimu yang berjilbab daripada dirimu yang tanpa jilbab. Inilah yang dinamakan pembuktian cinta yang hakiki!
Maka, jika datang seorang lelaki yang meminangmu dan ridha atas keadaanmu yang masih belum berjilbab, waspadalah. Jangan-jangan dia adalah lelaki dayyuts yang menjadi calon penghuni Neraka. Sekarang pikirkanlah olehmu saudariku, kemanakah bahtera rumah tanggamu akan bermuara apabila nahkodanya adalah calon penghuni Neraka?
6. “Pakai jilbab itu ribet dan mengganggu pekerjaan. Bisa-bisa nanti aku dipecat dari pekerjaan.”
Saudariku… Islam tidak pernah membatasi ruang gerak seseorang selama hal tersebut tidak mengandung kemaksiatan kepada Allah. Akan tetapi, Islam membatasi segala hal yang dapat membahayakan seorang wanita dalam melakukan aktivitasnya baik dari sisi dunia maupun dari sisi akhiratnya. Jilbab yang menjadi salah satu syari’at Islam adalah sebuah penghargaan sekaligus perlindungan bagi kaum wanita, terutama jika dia hendak melakukan aktivitas di luar rumahnya. Maka dengan perginya engkau untuk bekerja di luar rumah tanpa jilbab justru akan mendatangkan petaka yang seharusnya dapat engkau hindari. Alih-alih mempertahankan pekerjaan, engkau malah menggadaikan kehormatan dan harga dirimu demi setumpuk materi.
Tahukah engkau saudariku, siapa yang memberimu rizki? Bukankah Allah -Rabb yang berada di atas ‘Arsy-Nya- yang memerintahkan para malaikat untuk membagikan rizki kepada setiap hamba tanpa ada yang dikurangi barang sedikitpun? Mengapa engkau lebih mengkhawatirkan atasanmu yang juga rizkinya bergantung kepada kemurahan Allah?
Apakah jika engkau lebih memilih untuk tetap tidak berjilbab, maka atasanmu itu akan menjamin dirimu menjadi calon penghuni Surga? Ataukah Allah ‘Azza wa Jalla yang telah menurunkan perintah ini kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akan mengadzabmu akibat kedurhakaanmu itu? Pikirkanlah saudariku… Pikirkanlah hal ini baik-baik!
7. “Jilbab itu bikin gerah, dan aku tidak kuat kepanasan.”
Saudariku… Panas mentari yang engkau rasakan di dalam dunia ini tidak sebanding dengan panasnya Neraka yang akan kau terima kelak, jika engkau masih belum mau untuk berjilbab. Sungguh, dia tidak sebanding. Apakah engkau belum mendengar firman Allah yang berbunyi,
“Katakanlah: ‘(Api) Neraka Jahannam itu lebih sangat panas. Jika mereka mengetahui.’” (Qs. At-Taubah: 81)
Dan sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya,
“Sesungguhnya api Neraka Jahannam itu dilebihkan panasnya (dari panas api di bumi sebesar) enam puluh sembilan kali lipat (bagian).” [Hadits shahih. Riwayat Muslim (no. 2843) dan Ahmad (no. 8132). Lihat juga Shahih Al-Jaami' (no. 6742), dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu]
Manakah yang lebih sanggup engkau bersabar darinya, panasnya matahari di bumi ataukah panasnya Neraka di akhirat nanti? Tentu engkau bisa menimbangnya sendiri…
8. “Jilbab itu pilihan. Siapa yang mau pakai jilbab silakan, yang belum mau juga gak apa-apa. Yang penting akhlaknya saja benar.”
Duhai saudariku… Sepertinya engkau belum tahu apa yang dimaksud dengan akhlak mulia itu. Engkau menafikan jilbab dari cakupan akhlak mulia, padahal sudah jelas bahwa jilbab adalah salah satu bentuk perwujudan akhlak mulia. Jika tidak, maka Allah tidak akan memerintahkan kita untuk berjilbab, karena dia tidak termasuk ke dalam akhlak mulia.
Pikirkanlah olehmu baik-baik, adakah Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berakhlak buruk? Atau adakah Allah mengadakan suatu ketentuan yang tidak termasuk dalam kebaikan dan mengandung manfaat yang sangat besar? Jika engkau menjawab tidak ada, maka dengan demikian engkau telah membantah pendapatmu sendiri dan engkau telah setuju bahwa jilbab termasuk ke dalam sekian banyak akhlak mulia yang harus kita koleksi satu persatu. Bukankah demikian?
Ketahuilah olehmu, keputusanmu untuk tidak mengenakan jilbab akan membuat Rabb-mu menjadi cemburu, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda yang artinya,
“Sesungguhnya Allah itu cemburu dan seorang Mukmin juga cemburu. Adapun cemburunya Allah disebabkan oleh seorang hamba yang mengerjakan perkara yang diharamkan oleh-Nya.” [Hadits shahih. Riwayat Bukhari (no. 4925) dan Muslim (no. 2761)]
9. “Sepertinya Allah belum memberiku hidayah untuk segera berjilbab.”
Saudariku… Hidayah Allah tidak akan datang begitu saja, tanpa engkau melakukan apa-apa. Engkau harus menjalankan sunnatullah, yakni dengan mencari sebab-sebab datangnya hidayah tersebut.
Ketahuilah bahwa hidayah itu terbagi menjadi dua, yaitu hidayatul bayan dan hidayatut taufiq. Hidayatul bayan adalah bimbingan atau petunjuk kepada kebenaran, dan di dalamnya terdapat campur tangan manusia. Adapun hidayatut taufiq adalah sepenuhnya hak Allah. Dia merupakan peneguhan, penjagaan, dan pertolongan yang diberikan Allah kepada hati seseorang agar tetap dalam kebenaran. Dan hidayah ini akan datang setelah hidayatul bayan dilakukan.
Janganlah engkau jual kebahagiaanmu yang abadi dalam Surga kelak dengan dunia yang fana ini. Buanglah jauh-jauh perasaan was-wasmu itu. Tempuhlah usaha itu dengan berjilbab, sementara hatimu terus berdo’a kepada-Nya, “Allahummahdini wa saddidni. Allahumma tsabit qolbi ‘ala dinik (Yaa Allah, berilah aku petunjuk dan luruskanlah diriku. Yaa Allah, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu).”
Baca Selengkapnya - Apa yang menghalangi Jilbabmu Saudariku ?
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Bunuh Diri

Diposting oleh coretanfajar di 21.21 Label: agama
Assalamu'alaikumm..

akhir-akhir ini di berita-berita media televisi maupun koran, banyak yang memberitakan tentang bunuh diri. Dunia ini memang penuh cobaan, tapi inget nggak, kalau Allah SWT tidak akan memberikan cobaan kepada umatnya melebihi kesanggupannya. oia, ada juga hadist yang menyebutkan kalau tanda-tanda kiamat sudah dekat itu waktu ada orang yang melewati tempat pemakaman,  si fulan tadi bilang, "Alangkah bahagianya jika saya yg berada di tempatnya(kubur)".. wihh, menakutkan.. (paling-paling yang di dalam kubur, kalau orangx kafir bilang gene, "bahagia apanya, di sini sempit, nggak ada AC, udah gitu setiap hari di kasih tayangan film tentang tempat tinggalku kelak, neraka jahanam".. hehehhe). Ya Allah, smg Engkau senantiasa melindungi kami dari keputus asaan. amin.

Hey, jujur aja ia , dulu saya juga sempat berfikir ingin bunuh diri, di antara kalian juga pasti pernah berfikir begitu, tapi alhamdulillah masih dapat hidayahNya. Jadi ya, nggak jadi bunuh diri (he..he..he.. menertawakan diri sendiri).

hmm, aku juga pernah di curhatin sama temen, katanya dia nggak kuat dengan semuanya ini, dah berkali-kali dia mencoba bunuh diri, tapi gagal. (susahnya menasehati orang ini, nasehatin diri sendiri ja belum tentu bisa.. hehehe) katanya begini, untuk apa aku hidup di dunia ini, mending mati aja.. masuk neraka sebentar trus masuk surga. wkwkwkwk, tertawa sendiri saya membaca sms darinya. Emang bener ia, kalau orang bunuh diri, bisa masuk surga, waduh, kalau benar sudah banyak yang bunuh diri tuh. hehehe.. Ngeri juga melihat di berita, ada ibu yang membakar dirinya bersama kedua anaknya, hanya karena masalah ekonomi. Bunuh diri malah ngajak-ngajak, jadinya, saya ingin tau tentang masalah bunuh diri.

Benarkah jika kita bunuh diri masuk neraka sebentar?..lalu masuk surga?. Emangnya kita bisa menjamin ia?. trus kalau di tanya malaikat di kubur. Kan ada tiga pertanyaan yang akan di tanyakan kalau dalam kubur sama malaikat mungkar dan nakir.  jika ingin membaca yang lebih lengkap dan rinci bisa di lihat di sini.. setelah kita di masukkan ke dalam kubur .ada tiga pertanyaan yang akan di tanyakan, yaitu :
1. “Man Robbuka?” … Siapakah Robbmu?
2. “Wa maa diinuka?” … dan apakah agamamu?
3. “Wa maa hadzaar rujululladzii bu’itsa fiikum?” … dan siapakah orang yang telah diutus di antara kalian ini?

Orang-orang yang bisa menjawab adalah orang-orang yang paham, yakin dan mengamalkannya selama hidup sampai akhir hayat dan meninggal dalam keimanan. Seorang mukmin yang bisa menjawab ketiga pertanyaan, maka dia akan memperoleh nikmat kubur. Adapun orang kafir yang tidak bisa menjawabnya, maka dia akan dihadapkan kepada adzab kubur.

Kembali ke masalah bunuh diri, Kehidupan manusia bukan menjadi hak milik pribadi, sebab dia tidak dapat membuat dirinya, anggotanya ataupun sel-selnya. Diri manusia pada hakekatnya hanyalah sebagai barang titipan yang diberikan Allah. Oleh karena itu tidak boleh titipan ini diabaikannya. Bagaimana lagi memusuhinya? Dan apalagi melepaskannya dari hidup?

    Allah SWT berfirman,

    "Dan jangan kamu membunuh diri-diri kamu, karena sesungguhnya Allah maha belas-kasih kepadamu." (an-Nisa': 29)

Islam menghendaki kepada setiap muslim hendaknya selalu optimis dalam menghadapi setiap musibah. Oleh karena itu Islam tidak membenarkan dalam situasi apapun untuk melepaskan dari hidup dan menanggalkan pakaian karena ada suatu bala' yang menimpanya atau karena gagal dalam cita-cita yang diimpi-impikan. Sebab seorang mu'min dicipta justru untuk berjuang, bukan untuk tinggal diam, dan untuk berperang bukan untuk lari. Iman dan budinya tidak mengizinkan dia lari dari arena kehidupan. Sebab setiap mu'min mempunyai senjata yang tidak bisa sumbing dan mempunyai kekayaan yang tidak bisa habis, yaitu senjata iman dan kekayaan budi.

Rasulullah s.a.w. memberikan ancaman kepada orang yang berbuat tindak kriminal yang kejam ini dengan terhalangnya dari rahmat Allah dan mendapat murka Allah kelak di akhirat.

Rasulullah s.a.w. bersabda:

    "Sebelum kamu, pernah ada seorang laki-laki luka, kemudian marah sambil mengambil sebilah pisau dan di potongnya tangannya, darahnya terus mengalir sehingga dia mati. Maka berkatalah Allah: hambaku ini mau mendahulukan dirinya dari (takdir) Ku. Oleh karena itu Kuharamkan sorga atasnya." (Riwayat Bukhari, dan Muslim)

Kalau orang tersebut terhalang masuk sorga lantaran luka yang tidak seberapa sakitnya kemudian bunuh diri, maka bagaimana lagi orang yang bunuh diri lantaran mendapat kerugian sedikit atau banyak, atau lantaran tidak lulus ujian atau lantaran cintanya di tolak.. ?!

Kiranya orang-orang yang kurang bergairah itu suka mendengarkan ancaman yang dibawa Rasulullah s.a.w. yang berkilat dan mengguruh. Rasulullah s.a.w. bersabda sebagai berikut:

    "Barangsiapa menjatuhkan diri dari atas gunung kemudian bunuh diri, maka dia berada di neraka, dia akan menjatuhkan diri ke dalam neraka untuk selama-lamanya. Dan barangsiapa minum racun kemudian bunuh diri, maka racunnya itu berada di tangannya kemudian minum di neraka jahanam untuk selama-lamanya. Dan barangsiapa bunuh diri dengan alat tajam, maka alat tajamnya itu di tangannya akan menusuk dia di neraka jahanam untuk selama-lamanya." (Riwayat Bukhari dan Muslim)

hmm, sudah tau kan, kalau bunuh diri itu nantinya malah masuk neraka, lagipula, bunuh diri itu nggak gampang, ia low langsung mati,contohnya kalau kita bunuh diri dari gedung, trus bukannya mati, tapi masuk rumah sakit, kehilangan kaki. Apalagi kalau sampai masuk di koran ada tulisannya "Seorang fulan bunuh diri, karena cintanya di tolak".. bayangkan aja, sudah mati masuk neraka, di dunia malah di ketawain orang, membuat kecewa orang" yang menyayangi kita. hmm, jadi jangan ia. Kalau ada masalah, coba ceritakan sama sahabat, keluarga, jika memang mereka tak ada.. jangan melupakan 1 hal, kita bisa curhat ma Allah SWT, dengan sholat malam. hehhe..

smg Artikel ini bermanfaat untuk semuanya, maaf jika ada salah" kata..
Baca Selengkapnya - Bunuh Diri
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Tamu Nabi Ibrahim

Diposting oleh coretanfajar di 20.36 Label: agama
(di kutip dari : “Para Kekasih Allah, oleh : Ummi Alhan Ramadhan Mazayasyah“)

Masih seputar kisah tentang Nabi Ibrahim a.s. Sebagai seorang khalilullah, Nabi Ibrahim a.s. memperoleh kasih sayang Allah yang sangat besar. Kasih sayang Nabi Ibrahim a.s kepada makhluk Allah pun sangat besar. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa nabi Ibrahim a.s hampir setiap hari menempuh perjalanan bermil-mil jauhnya hanya untuk mencari teman guna menikmati makanan yang diperolehnya.

Manakala ia berada dalam kondisi sangat takut kepada Allah, Malaikat Jibril datang menhiburnya dengan pesan khusus dari Allah. Begitu pula jika Nabi Ibrahim a.s melakukan kesalahan, maka Allah ‘Azza wa jalla dengan segera akan memberinya petunjuk dan mengampuni kesalahanya.

Biasanya, orang-orang yang mengikuti ajaran Nabi Ibrahim a.s datang berkunjung ke rumahnya untuk meminta berbagai nasihat. Suatu ketika, yang datang ke rumah Nabi Ibrahim a.s bukanlah seorang muslim, melainkan seorang penganut agama Majusyi.

Dari rumahnya yang jauh, lelaki Majusyi yang berusia sekitar tujun puluh tahun itu datang menemui Nabi Ibrahim a.s. Didepan rumah Nabi Ibrahim a.s, lelaki majusyi itu mengetuk pintu. Ketika Nabi Ibrahim a.s melihat siapa yang datang, ia langsung menanyakan kperluan orang itu hingga datang ke rumahnya.

Semula, Nabi Ibrahim a.s mengira orang itu ingin di islamkan sebagai pengikut Nabi Ibrahim a.s Akan tetapi, orang majusyi itu ternyata tidak bermaksud utnuk mngucapkan kalimat tauhid. Ia semata-mata hanya ingin bertamu ke rumah Nabi Ibrahim a.s. Mendengar niatnya yang ‘hanya’ ingin datang bertamu, maka Nabi Ibrahim a.s langsung menolak secara tegas seraya berkata: “Aku tak akan menjadikan engkau sebagai tamuku, kecuali engkau bersedia keluar dari agamamu dan meninggalkan ajaran majusyio itu.”

Mendengar pernyataan Nabi Ibrahim a.s, orang itu menjadi sangat kecewa. Ia pun segera pulang kembali ke rumahnya. Pada saat itu, turunlah Malaikat Jibril yang menyampaikan wahyu dari Allah :
“Hai Ibrahim, pakah engkau tak bersedia menjamin orang itu sebagai tamumu kecuali ia keluar dari agamanya? Apakah bahayanya bagimu jika engkau menjadikan ia sebagai tamumu hanya untuk satu malam saja? Padahal Kami telah memberinya makan dan minum selama tujuh puluh tahun, meskipun ia mengingkari Kami?”

Teguran dari Allah itu membmuat Nabi Ibrahim a.s merasa sangat menyesal. Pagi harinya, ia segera keluar rumah untuk mencari lelaki majusyi terebut. Sepanjang hari ia mencari dan menanyakan kepada orang-orang yang mungkin mengenali ciri-ciri wajahnya. Akhirnya, ia bertemu dengan orang yang mengenal siapa orang yang dicarinya itu. Setelah memperoleh kepastian tentang tempat tinggalnya, maka Nabi Ibrahim a.s segera berkunjung ke rumah lelaki Majusyi itu.

Kedatangan Nabi Ibrahim a.s membuat lelaki Majusyi itu merasa heran. Ia tak habis pikir. Baru semalam Nabi Ibrahim a.s menolak kunjungannya, tetapi kini justru Nabi Ibrahim a.s yang berkunjung ke rumahnya. Yang lebih mengherankan, Nabi Ibrahim meminta agar lelaki majusyi itu berkenan datang bertamu kembali ke rumahnya dan Nabi Ibrahim a.s berjanji, jika lelaki itu datang bertamu ke rumahnya, maka ia akan diperlakukan sebagai seoarang tamu.

“Sungguh engkau aneh sekali,” ujar lelaki Majusyi itu. “Baru tadi malam aku berkunjung di rumahmu, tetapi engkau tolak. Hari ini, justru engkau yang bersusah payah mencariku dan memintaku pula untuk sudi bertamu ke rumahmu. Ada apa sebetulnya, sehingga engkau berbuat demikian?” tanya lelaki itu kemudian.

Nabi Ibrahim a.s akhirnya menceritakan apa saja yang telah diwahyukan oleh Allah kepadanya. Ia mengatakan bahwa Allah, Tuhan dari segala Tuhan itu, telah menegurnya atas sikapnya yang menolak seorang tamu. Bahkan, Allah justru ‘membela’ lelaki Majusyi tersebut.

Lelaki itu termenung. Lama ia memikirkan apa yang baru saja didengarnya dari Nabi Ibrahim a.s. Hatinya bertanya-tanya tentang apa yang telah melatarbelakangi sehingga Tuhannya Ibrahim mau membela dirinya. Saat itu juga, sebuah hidayah menelusupi relung hatinya yang paling dalam. Cahaya kebenaran yang menerangi kegelapan jiwanya. Ia tersadar, bahwa sungguh Maha Kasih Sayang Tuhan yang disembah Nabi Ibrahim a.s.

“Apakah benar Tuhan segala Tuhan memperlakukanku seperti itu? Padahal, aku jelas-jelas telah mengingkarinya selama tujuh puluh tahun usiaku ini.” Tanyanya kepada Nabi Ibrahim a.s.

“Nabi Ibrahim a.s. mengiyakan. Ia mejelaskan bahwa rahmat dan kasih sayang Allah meliputi seluruh alam semesta dan segala makhluk yang ada di dalamnya. Lelaki itu pun tersungkur di hadapan Nabi Ibrahim a.s. Ia menangisi haru, seraya berkata :”Ulurkan tanganmu dan bai’atlah aku”.

Nabi Ibrahim a.s pun mengulurkan tanganya ke atas kepala lelaki itu. Segera diucapkanlah kalimat syahadat sebagai tanda ia telah keluar dari agama lamanya. “Aku bersaksi sesungguhnya tiaada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah.” ujarnya mantap.

subhanallahh..
Baca Selengkapnya - Tamu Nabi Ibrahim
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Selasa, 17 Agustus 2010

Marhaban Ya Ramadhan

Diposting oleh coretanfajar di 20.20 Label: agama
sebelumnya saya ingin meminta maaf sebesar-besarnya atas segala salah dan kekhilafan kepada semua teman-teman. Semoga kita semua umat muslim bisa menjalankan amal ibadah di bulan suci ramadhan dengan baik.

“MARHABAN YA RAMADHAN”

karena memasuki bulan pernuh berkah dan pengampunan ini, saya mencoba mencari artikel-artikel tentang RAMADHAN. semoga bermanfaat ia. dan ini juga saya dapat dari mbah google, ini linknya, Keutamaan Puasa di Bulan Ramadhan. banyak sekali yang bisa kita dapatkan dalam bulan ramadhan ini.

Penulis: Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hami
Fiqh, 25 Oktober 2003, 02:05:39


Banyak sekali ayat yang tegas dan muhkam (qath’i) dalam Kitabullah yang mulia, memberikan anjuran untuk puasa sebagai sarana untuk taqarrub kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan juga menjelaskan keutamaan-keutamaannya, seperti firman ALLAH (yang artinya) : “Sesungguhnya kaum muslimin dan muslimat, kaum mukminin dan mukminat, kaum pria yang patuh dan kaum wanita yang patuh, dan kaum pria serta wanita yang benar (imannya) dan kaum pria serta kaum wanita yang sabar (ketaatannya), dan kaum pria serta wanita yang khusyu’, dan kaum pria serta wanita yang bersedekah, dan kaum pria serta wanita yan berpuasa, dan kaum pria dan wanita yang menjaga kehormatannya (syahwat birahinya), dan kaum pria serta wanita yang banyak mengingat Allah, Allah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar” [A-Ahzab : 35]

Dan firman ALLAH (yang artinya) : “Dan kalau kalian puasa, itu lebih baik bagi kalian kalau kalian mengetahuinya” [Al-Baqarah : 184].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan dalam hadits yang shahih bahwa puasa adalah benteng dari syahwat, perisai dari neraka. Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mengkhususkan satu pintu surga untuk orang yang puasa. Puasa bisa memutuskan jiwa dari syahwatnya, menahannya dari kebiasaan-kebiasaan yang jelek, hingga jadilah jiwa yang tenang. Inilah pahala yang besar, keutamaan yang agung ; dijelaskan secara rinci dalam hadits-hadits shahih berikut ini, dijelaskan dengan penjelasan yang sempurna.

1. Puasa Adalah Perisai [Pelindung]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh orang yang sudah kuat syahwatnya dan belum mampu untuk menikah agar berpuasa, menjadikannya sebagai wijaa’[memutuskan] bagi syahwat ini, karena puasa menahan kuatnya anggota badan hingga bisa terkontrol, menenangkan seluruh anggota badan, serta seluruh kekuatan (yang jelek) ditahan hingga bisa taat dan dibelenggu dengan belenggu puasa. Telah jelas bahwa puasa memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam menjaga anggota badan yang dhahir dan kekuatan bathin.

Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu ba’ah [mampu dgn berbagai macam persiapannya] hendaklah menikah, karena menikah lebih menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barangsiapa yang belum mampu menikah, hendaklah puasa karena puasa merupakan wijaa’ (pemutus syahwat) baginya” [Hadits Riwayat Bukhari 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas'ud]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa surga diliputi dengan perkara-perkara yang tidak disenangi, dan neraka diliputi dengan syahwat. Jika telah jelas demikian -wahai muslim- sesungguhnya puasa itu menghancurkan syahwat, mematahkan tajamnya syahwat yang bisa mendekatkan seorang hamba ke neraka, puasa menghalangi orang yang puasa dari neraka. Oleh karena itu banyak hadits yang menegaskan bahwa puasa adalah benteng dari neraka, dan perisai yang menghalangi seseorang dari neraka.

Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya) : “Tidaklah seorang hamba yang puasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim” [Hadits Riwayat Bukhari 6/35, Muslim 1153 dari Abu Sa'id Al-Khudry, ini adalah lafadz Muslim. Sabda Rasulullah : "70 musim" yakni : perjalanan 70 tahun, demikian dikatakan dalam Fathul Bari 6/48].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “Puasa adalah perisai, seorang hamba berperisai dengannya dari api neraka” [Hadits Riwayat Ahmad 3/241, 3/296 dari Jabir, Ahmad 4/22 dan Utsman bin Abil 'Ash. Ini adalah hadits yang shahih].

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “Barangsiapa yang berpuasa sehari di jalan Allah maka di antara dia dan neraka ada parit yang luasnya seperti antara langit dengan bumi” [Dikeluarkan oleh Tirmidzi no. 1624 dari hadits Abi Umamah, dan di dalam sanadnya ada kelemahan. Al-Walid bin Jamil, dia jujur tetapi sering salah, akan tetapi di dapat diterima. Dan dikeluarkan pula oleh At-Thabrani di dalam Al-Kabir 8/260,274, 280 dari dua jalan dari Al-Qasim dari Abi Umamah. Dan pada bab dari Abi Darda', dikeluarkan oleh Ath-Thabrani di dalam Ash-Shagir 1/273 di dalamnya terdapat kelemahan. Sehingga hadits ini SHAHIH].

Sebagian ahlul ilmi telah memahami bahwa hadits-hadits tersebut merupakan penjelasan tentang keutamaan puasa ketika jihad dan berperang di jalan Allah. Namun dhahir hadits ini mencakup semua puasa jika dilakukan dengan ikhlas karena mengharapkan wajah Allah Ta’ala, sesuai dengan apa yang dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalm termasuk puasa di jalan Allah (seperti yang disebutkan dalam hadits ini).

2. Puasa Bisa Memasukkan Hamba ke Surga

Engkau telah tahu wahai hamba yang taat -mudah-mudahan Allah memberimu taufik untuk mentaati-Nya, menguatkanmu dengan ruh dari-Nya- bahwa puasa menjauhkan orang yang mengamalkannya ke bagian pertengahan surga.

Dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘anhu katanya, “Aku berkata (kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) : “Wahai Rasulullah, tunjukkan padaku suatu amalan yang bisa memasukkanku ke surga.? Beliau menjawab : “Atasmu puasa, tidak ada (amalan) yang semisal dengan itu” [Hadits Riwayat Nasa'i 4/165, Ibnu Hibban hal. 232 Mawarid, Al-Hakim 1/421, sanadnya Shahih]

3. Pahala Orang Puasa Tidak Terbatas (Seluruhnya terkumpul pembahasannya pada hadits-hadits yang akan datang)

4. Orang Puasa Punya Dua Kegembiraan (Seluruhnya terkumpul pembahasannya pada hadits-hadits yang akan datang)

5. Bau Mulut Orang Yang Puasa Lebih Wangi dari Baunya Misk (Seluruhnya terkumpul pembahasannya pada hadits-hadits yang akan datang)
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, (bahwasanya) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “Semua amalan bani Adam untuknya kecuali puasa [Baginya pahala yang terbatas, kecuali puasa karena pahalanya tidak terbatas] , karena puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya, puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah : ‘Aku sedang berpuasa’ [1]. Demi dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesunguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada bau misk[2] orang yang puasa mempunyai dua kegembiraan, jika berbuka mereka gembira, jika bertemu Rabbnya mereka gembira karena puasa yang dilakukannya” [Bukhari 4/88, Muslim no. 1151, Lafadz ini bagi Bukhari].

Di dalam riwayat Bukhari (disebutkan) (yang artinya) : “Meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena puasa untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya, kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang semisal dengannya”

Di dalam riwayat Muslim (yang artinya) : “Semua amalan bani Adam akan dilipatgandakan, kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang semisal dengannya, sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman : “Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya, dia (bani Adam) meninggalkan syahwatnya dan makanannya karena Aku” Bagi orang yang puasa ada dua kegembiraan ; gembira ketika berbuka dan gembira ketika bertemu Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang puasa di sisi Allah adalah lebih wangi daripada bau misk”

6. Puasa dan Al-Qur’an Akan Memberi Syafa’at Kepada Ahlinya di hari Kiamat
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat kepada hamba di hari Kiamat, puasa akan berkata : “Wahai Rabbku, aku akan menghalanginya dari makan dan syahwat, maka berilah dia syafa’at karenaku”. Al-Qur’an pun berkata : “Aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka berilah dia syafa’at karenaku” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Maka keduanya akan memberi syafa’at” [3]

7. Puasa Sebagai Kafarat

Diantara keistimewaan puasa yang tidak ada dalam amalan lain adalah ; Allah menjadikannya sebagai kafarat bagi orang yang memotong rambut kepalanya (ketika haji) karena ada udzur sakit atau penyakit di kepalanya, kaparat bagi yang tidak mampu memberi kurban, kafarat bagi pembunuh orang kafir yang punya perjanjian karena membatalkan sumpah, atau yang membunuh binatang buruan di tanah haram dan sebagai kafarat zhihar. Akan jelas bagimu dalam ayat-ayat berikut ini.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) : “Dan sempurnakanlah olehmu ibadah haji dan umrah karena Allah ; maka jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau sakit), maka wajib menyembelih kurban yang mudah didapat. Dan janganlah kamu mencukur rambut kepalamu, hingga kurban itu sampai ke tempat penyembelihannya. Jika ada diantaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercu kur), maka wajib atasnya berfidyah, yaitu berpuasa atau bersedekah atau berkurban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) kurban yang mudah di dapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang kurban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluargannya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Makkah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya” [Al-Baqarah : 196]

Allah Ta’ala juga berfirman (yang artinya) : “Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat (denda) yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara taubat kepada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” [An-Nisaa' : 92]

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) : “ Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah kamu yang kamu sengaja, maka kafarat (melanggar) sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kafaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kafarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya)” [Al-Maidah : 89]

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) : “Orang-orang yang menzhihar isteri mereka kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajib atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih” [Al-Mujaadiliah : 3-4]

Demikian pula, puasa dan shadaqah bisa menghapuskan fitnah seorang pria dari harta, keluarga dan anaknya. Dari Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “Fitnah pria dalam keluarga (isteri), harta dan tetangganya, bisa dihapuskan oleh shalat, puasa dan shadaqah” [Hadits Riwayat Bukhari 2/7, Muslim 144]

8. Ar Rayyan Bagi Orang yang Puasa

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (bahwa beliau) bersabda (yang artinya) : “Sesungguhnya dalam surga ada satu pintu yang disebut dengan Rayyan, orang-orang yang puasa akan masuk di hari kiamat nanti dari pintu tersebut, tidak ada orang selain mereka yang memasukinya. Jika telah masuk orang terkahir yang puasa ditutuplah pintu tersebut. Barangsiapa yang masuk akan minum, dan barangsiapa yang minum tidak akan merasa haus untuk selamanya” [Hadits Riwayat Bukhari 4/95, Muslim 1152, dan tambahan lafadz yang akhir ada pada riwayat Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya 1903]

Footnote.
1. Dengan ucapan yang terdengar oleh si pencerca atau orang yang mengganggu tersebut, ada yang mengatakan : diucapkan di dalam hatinya agar tidak saling mencela dan saling memerangi. Yang pertama lebih kuat dan lebih jelas, karena ucapan secara mutlak adalah dengan lisan, adapun bisikan jiwa dibatasi oleh sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah : “Sesunguhnya Allah memaafkan bagi umatku apa yang terbetik dalam hatinya selama belum diucapkan atau diamalkannya” (Muttafaqun ‘alaih). Maka jelaslah bahwa ucapan itu mutlak tidak terjadi kecuali oleh ucapan yang dapat dididengar dengan suara yang terucap dan huruf. Wallahu a’lam.

2. Lihat apa yang telah ditulis oleh Ibnul Qayyim dalam Al-Wabilu Shayyin minal Kalami At-Thayyib hal.22-38

3. Diriwayatkan oleh Ahmad 6626, Hakim 1/554, Abu Nu’aim 8/161 dari jalan Huyaiy bin Abdullah dari Abdurrahman Al-hubuli dari Abdullah bin ‘Amr, dan sanadnya hasan. Al-Haitsami berkata di dalam Majmu’ Zawaid 3/181 setelah menambah penisbatannya kepada Thabrani dalam Al-Kabir : “Dan perawinya adalah perawi shahih”
Faedah : Hadits ini dan yang semisalnya dari hadits-hadits yang telah warid yang menyatakan bahwa amalan itu berjasad, wajib diimani dengan keimanan yang kuat tanpa mentahrif atau mentakwilnya, karena demikianlah manhajnya salafus shalih, dan jalannya mereka tidak diragukan lebih selamat, lebih alim dan bijaksana (tepat).
Cukuplah bagimu bahwa itu adalah salah satu syarat iman. Alla Ta’ala berfirman.
(yang artinya) : “(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugrahkan kepada mereka” [Al-Baqarah : 3]

(Judul Asli : Shifat shaum an Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet. Ke 5 th 1416 H. Edisi Indonesia Sifat Puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka Al-Mubarok (PMR), penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H)
Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya.
Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=299
Baca Selengkapnya - Marhaban Ya Ramadhan
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Senin, 16 Agustus 2010

Lelaki di Tarik ke Neraka karena Wanita

Diposting oleh coretanfajar di 02.02 Label: agama
Sebab Utama Lelaki di Tarik ke Neraka oleh Wanita

Di akhirat nanti ada 4 golongan lelaki yang akan di tarik masuk ke neraka oleh wanita. Lelaki itu adalah mereka yg tidak memberikan hak kepada wanita dan tidak menjaga amanah itu. Mereka ialah :

1. Ayahnya
Apabila seseorang yg bergelar ayah tidak mempedulikan anak-anak perempuannya di dunia. Dia tidak memberikan segala keperluan agama seperti mengajar sholat, mengaji dan sebagainya. Dia membiarkan anak-anak perempuannya tidak menutup aurat. Tidak cukup hanya memberi kemewahan dunia saja. Maka dia akan ditarik ke neraka oleh anaknya.

2. Suaminya
Apabila sang suami tidak mempedulikan tindak tanduk isterinya. Bergaul bebas , memperhiaskan diri bukan untuk suami tapi untuk pandangan kaum lelaki yang bukan mahram. Apabila suami mendiam diri walaupun seorang yang alim dimana sholatnya dan shoumnya tidak pernah ketinggalan maka dia akan turut ditarik oleh isterinya bersama-sama ke dalam neraka.

3. Abang-abangnya
Apabila ayahnya sudah tiada, tanggungjawab menjaga wanita jatuh ke abang-abangnya dan saudara lelakinya. Jikalau mereka hanya mementingkan keluarganya saja dan adiknya dibiar melenceng dari ajaran Islam, tunggulah tarikan adiknya di akhirat kelak.

4. Anak- Anak lelakinya

Apabila seorang anak tidak menasihati seorang ibu tentang kelakuan yang haram di sisi Islam. Bila ibu membuat kemungkaran mengumpat, memfitnah dan sebagainya maka anak itu akan di minta pertanggungjawabannya di akhirat kelak dan nantikan tarikan ibunya ke neraka.

Lihatlah, betapa hebatnya tarikan wanita bukan sahaja di dunia malah di akhirat pun tarikannya begitu hebat. Maka kaum lelaki yang bergelar ayah/suami/abang atau anak harus memainkan peranan mereka.

Firman Allah S.W.T, “Hai anak Adam, peliharalah diri kamu serta keluargamu dari api neraka dimana bahan bakarnya ialah manusia, jin dan batu-batu.”
Baca Selengkapnya - Lelaki di Tarik ke Neraka karena Wanita
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Tamu Nabi Ibrahim

Diposting oleh coretanfajar di 01.59 Label: agama
(di kutip dari : “Para Kekasih Allah, oleh : Ummi Alhan Ramadhan Mazayasyah“)

Masih seputar kisah tentang Nabi Ibrahim a.s. Sebagai seorang khalilullah, Nabi Ibrahim a.s. memperoleh kasih sayang Allah yang sangat besar. Kasih sayang Nabi Ibrahim a.s kepada makhluk Allah pun sangat besar. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa nabi Ibrahim a.s hampir setiap hari menempuh perjalanan bermil-mil jauhnya hanya untuk mencari teman guna menikmati makanan yang diperolehnya.

Manakala ia berada dalam kondisi sangat takut kepada Allah, Malaikat Jibril datang menhiburnya dengan pesan khusus dari Allah. Begitu pula jika Nabi Ibrahim a.s melakukan kesalahan, maka Allah ‘Azza wa jalla dengan segera akan memberinya petunjuk dan mengampuni kesalahanya.

Biasanya, orang-orang yang mengikuti ajaran Nabi Ibrahim a.s datang berkunjung ke rumahnya untuk meminta berbagai nasihat. Suatu ketika, yang datang ke rumah Nabi Ibrahim a.s bukanlah seorang muslim, melainkan seorang penganut agama Majusyi.

Dari rumahnya yang jauh, lelaki Majusyi yang berusia sekitar tujun puluh tahun itu datang menemui Nabi Ibrahim a.s. Didepan rumah Nabi Ibrahim a.s, lelaki majusyi itu mengetuk pintu. Ketika Nabi Ibrahim a.s melihat siapa yang datang, ia langsung menanyakan kperluan orang itu hingga datang ke rumahnya.

Semula, Nabi Ibrahim a.s mengira orang itu ingin di islamkan sebagai pengikut Nabi Ibrahim a.s Akan tetapi, orang majusyi itu ternyata tidak bermaksud utnuk mngucapkan kalimat tauhid. Ia semata-mata hanya ingin bertamu ke rumah Nabi Ibrahim a.s. Mendengar niatnya yang ‘hanya’ ingin datang bertamu, maka Nabi Ibrahim a.s langsung menolak secara tegas seraya berkata: “Aku tak akan menjadikan engkau sebagai tamuku, kecuali engkau bersedia keluar dari agamamu dan meninggalkan ajaran majusyio itu.”

Mendengar pernyataan Nabi Ibrahim a.s, orang itu menjadi sangat kecewa. Ia pun segera pulang kembali ke rumahnya. Pada saat itu, turunlah Malaikat Jibril yang menyampaikan wahyu dari Allah :
“Hai Ibrahim, Apakah engkau tak bersedia menjamin orang itu sebagai tamumu kecuali ia keluar dari agamanya? Apakah bahayanya bagimu jika engkau menjadikan ia sebagai tamumu hanya untuk satu malam saja? Padahal Kami telah memberinya makan dan minum selama tujuh puluh tahun, meskipun ia mengingkari Kami?”

Teguran dari Allah itu membmuat Nabi Ibrahim a.s merasa sangat menyesal. Pagi harinya, ia segera keluar rumah untuk mencari lelaki majusyi terebut. Sepanjang hari ia mencari dan menanyakan kepada orang-orang yang mungkin mengenali ciri-ciri wajahnya. Akhirnya, ia bertemu dengan orang yang mengenal siapa orang yang dicarinya itu. Setelah memperoleh kepastian tentang tempat tinggalnya, maka Nabi Ibrahim a.s segera berkunjung ke rumah lelaki Majusyi itu.

Kedatangan Nabi Ibrahim a.s membuat lelaki Majusyi itu merasa heran. Ia tak habis pikir. Baru semalam Nabi Ibrahim a.s menolak kunjungannya, tetapi kini justru Nabi Ibrahim a.s yang berkunjung ke rumahnya. Yang lebih mengherankan, Nabi Ibrahim meminta agar lelaki majusyi itu berkenan datang bertamu kembali ke rumahnya dan Nabi Ibrahim a.s berjanji, jika lelaki itu datang bertamu ke rumahnya, maka ia akan diperlakukan sebagai seoarang tamu.

“Sungguh engkau aneh sekali,” ujar lelaki Majusyi itu. “Baru tadi malam aku berkunjung di rumahmu, tetapi engkau tolak. Hari ini, justru engkau yang bersusah payah mencariku dan memintaku pula untuk sudi bertamu ke rumahmu. Ada apa sebetulnya, sehingga engkau berbuat demikian?” tanya lelaki itu kemudian.

Nabi Ibrahim a.s akhirnya menceritakan apa saja yang telah diwahyukan oleh Allah kepadanya. Ia mengatakan bahwa Allah, Tuhan dari segala Tuhan itu, telah menegurnya atas sikapnya yang menolak seorang tamu. Bahkan, Allah justru ‘membela’ lelaki Majusyi tersebut.

Lelaki itu termenung. Lama ia memikirkan apa yang baru saja didengarnya dari Nabi Ibrahim a.s. Hatinya bertanya-tanya tentang apa yang telah melatarbelakangi sehingga Tuhannya Ibrahim mau membela dirinya. Saat itu juga, sebuah hidayah menelusupi relung hatinya yang paling dalam. Cahaya kebenaran yang menerangi kegelapan jiwanya. Ia tersadar, bahwa sungguh Maha Kasih Sayang Tuhan yang disembah Nabi Ibrahim a.s.

“Apakah benar Tuhan segala Tuhan memperlakukanku seperti itu? Padahal, aku jelas-jelas telah mengingkarinya selama tujuh puluh tahun usiaku ini.” Tanyanya kepada Nabi Ibrahim a.s.

“Nabi Ibrahim a.s. mengiyakan. Ia mejelaskan bahwa rahmat dan kasih sayang Allah meliputi seluruh alam semesta dan segala makhluk yang ada di dalamnya. Lelaki itu pun tersungkur di hadapan Nabi Ibrahim a.s. Ia menangisi haru, seraya berkata :”Ulurkan tanganmu dan bai’atlah aku”.

Nabi Ibrahim a.s pun mengulurkan tanganya ke atas kepala lelaki itu. Segera diucapkanlah kalimat syahadat sebagai tanda ia telah keluar dari agama lamanya. “Aku bersaksi sesungguhnya tiaada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah.” ujarnya mantap.

subhanallahh..

Baca Selengkapnya - Tamu Nabi Ibrahim
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Kamis, 12 Agustus 2010

Mendengarkan Al Quran online

Diposting oleh coretanfajar di 20.41 Label: agama
Assalamu'alaikumm..
di bulan yang penuh berkah ini, smg kita semua bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Dan pada saat nanti Hari Raya Idhul Fitri, kita semua bisa mendapatkan barokah puasa. hehhee.. Setidaknya sempatkan mendengarkan al-quran, lebih baek lagi di baca, di pahami, dan di amalkan ..
Kata “tilawah” dengan berbagai derivasi dan variasi maknanya dalam Al-Qur’an terulang/disebutkan sebanyak 63 kali. Kata tilawah ini dalam beberapa kitab seperti dalam al-Mishbah al-Munir fi Gharib al-Syarh al-Kabir, Al-Shahib Ibn ‘Ibad dalam al-Muhith fi al-Lughah, Ibnu Mandhur dalam Lisan al-‘Arab, dan dalam Mukhtar al-Shihah, secara leksial/harfiah mengandung makna “bukan sekedar” membaca (qiro’ah).
Secara Istilah kata tilawah dapat diartikan sebagai pembacaan yang bersifat spiritual atau aktifitas membaca yang diikuti komitmen dan kehendak untuk mengikuti apa yang dibaca itu. Sedangkan qiro’ah dapat dimaknai sebagai aktifitas membaca secara kognitif atau kegiatan membaca secara umum, sementara tilawah adalah membaca sesuatu dengan sikap pengagungan. Oleh karena itu, dalam Al Qur’an kata tilawah sering digunakan daripada kata qiro’ah dalam konteks tugas para Rasul ‘alaihimussalam.
Syaikh Ibnu Utsaimin dalam kitabnya Majalis Syahr Ramadlan menguraikan cakupan makna tilawah dalam dua macam, yakni:
Pertama – Tilawah hukmiyah, yaitu membenarkan segala informasi Al Qur’an dan menerapkan segala ketetapan hukumnya dengan cara menunaikan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.
Kedua – Tilawah lafdziyah, yaitu membacanya. Inilah yang keutamaannya diterangkan oleh Rasulullah s.a.w. dalam hadits Bukhari: خَيرُكُم مَنْ تعَلَّمَ القُرآنَ وعَلَّمَه; sebaik-baiknya diantara kamu adalah yang belajar Al Qur’an dan yang mengajarkannya”.

Oleh karena itu bacalah Al-Qu'an di mana pun dan kapan pun kita berada, begitu pula dalam berselancar di dunia internet. kita gunakan tilawah online sebagai alternatifnya, agar suara al-qur'an terus dikumandangkan.

Baca Selengkapnya - Mendengarkan Al Quran online
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails

Kategori

  • agama (7)
  • coretan (6)
  • Komputer (4)
  • Pascal (1)

Kumpul Blogger

Blog Archive

  • ▼  2010 (17)
    • ▼  Agustus (17)
      • Apa yang menghalangi Jilbabmu Saudariku ?
      • Bunuh Diri
      • Raihanna, Pudarnya Cahaya Cleopatra
      • Makna Cinta
      • Tamu Nabi Ibrahim
      • Pengenalan Pascal
      • Pengenalan Windows98
      • Apa yang di maksud DOS?
      • Apa itu Komputer?..
      • Marhaban Ya Ramadhan
      • Lelaki di Tarik ke Neraka karena Wanita
      • Tamu Nabi Ibrahim
      • Mendengarkan Al Quran online
      • kekalutan fatimah az-zahra
      • Kisah Hati yang Mulia
      • film Islam KTP
      • Jadilah dirimu sendiri

Artikel Lain

  • Coretan
    Saudariku… Seorang mukmin dengan mukmin lain ibarat cermin. Bukan cermin yang memantulkan bayangan fisik, melainkan cermin yang menjadi refleksi akhlak dan...
    15 tahun yang lalu
  • Komputer
    Setelah belajar mengenai DOS, pelajaran berikutnya yang saya ingat adalah bahasa Pemograman Pascal. Untuk yang belum mengetahui kita akan memulai dengan se...
    15 tahun yang lalu

Teman Blogroll

  • Bukhari Muslim
  • Belajar Bisnis Online

Followers

Powered by  MyPagerank.Net

kunjungi Iklan Kami

 

© 2010 Anggi Marsela All Rights Reserved Coretan Fajar
designed by DT Website Templates | Bloggerized by Agus Ramadhani | Zoomtemplate.com